Gafatar Menyebar di Sumbar

Top Fm January 14, 2016 0
Gafatar Menyebar di Sumbar

PADANG, — Ba­dan Kesatuan Bangsa dan Sosial Politik (Kesbangpol) Sumbar mendeteksi adanya organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Sem­bilan kabupaten/kota di Sumbar. Kesembilan daerah tingkat dua itu ada­lah Kota Padang, Kota Pa­ria­man, Kota Solok, Kabu­paten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Bukittinggi, Kabu­paten Agam, Pasaman Barat dan Kepulauan Mentawai.

Menurut  Kepala Badan Kesbangpol Sumbar Ivan Khairul Ananda ditemui Haluan Rabu (13/1) sore di kantornya mengatakan, Ga­fatar memang pernah terca­tat di Kesbangpol Sumbar pada tahun 2010 lalu. Na­mun, sejak saat itu tidak pernah lagi melakukan per­pan­jangan izin organisasi.

“Awal mendaftar Ga­fatar ini tidak membawa aliran agama tertentu. Tapi saat itu hanya berupa orga­nisasi sosial kemasya­raka­tan, sehingga bisa diterima pendaftarannya,” terang Ivan (berita terkait, baca halaman 19).

Ditambahkan Ivan se­lain memiliki Dewan Pim­pi­nan Cabang (DPC) di kabupaten/kota, Gafatar juga memiliki Dewan Pim­pinan Daerah (DPD) yang berkantor di Jalan Sulawesi Nomor 9, Ulak Karang, Padang di bawah pimpinan Eko Riswanto Ketua DPD, Mardimin Pembina Daerah dan Fachru Rozi Sekretaris Daerah.

Dalam perjalanannya kata Ivan ternyata Gafatar ini membawa aliran agama tertentu. Hanya saja, ia ber­pendapat di Sumbar belum ditemukan ada keluhan di masyarakat tentang hal ter­se­but. “Saat ini kami belum bisa melakukan apa-apa karena masih mengum­pul­kan bukti. Sejauh ini juga belum ada keluhan di mas­ya­rakat tentang Gafatar,” ujarnya.

Meski demikian kata Ivan masyarakat terutama kalangan intelektual harus lebih selektif dalam menerima ajakan dan tawaran tertentu. Hal itu untuk menghindari dari ajakan sesat untuk bergabung dengan aliran tertentu.

“Jangan asal menerima aja­kan dari orang yang baru dikenal, seperti ajakan yang berlandaskan sosial dan kemasyarakatan. Ha­rus lebih selektif,” terangnya.

Setelah maraknya penolakan Gafatar di berbagai daerah tidak tertutup kemungkinan organisasi ini juga akan dilarang kebera­daannya di Sumbar. Tapi hal ini baru dapat dilakukan setelah Kesbangpol, Badan Koordinasi Pengawasan Aliran dan Keper­cayaan Masyarakat (Bakor Pa­kem) yang diketuai Kejaksaan Tinggi (Kejati) mendapat bukti penyimpangan Gafatar tersebut.

Saring Informasi

Sementara itu, Kapolda Sum­bar Brigjen Pol Basarudin ke­pada pers pada ajang pisah sam­but dengan mantan Kapolda Brigjen Bambang Sri Herwanto menye­butkan pihaknya telah fokus me­ngawasi perkembangan jaringan organisasi terlarang seperti tero­risme, termasuk Gafa­tar sendiri.

Menurutnya, hal ini dilaku­kan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat serta meminimalisir tindak kriminal. “Tidak hanya untuk meminimal­kan tindak kejahatan, kami juga fokus untuk mengantisipasi ber­kembangnya gerakan terorisme di Sumbar,” ujar Basarudin di SPN Padang Besi, Rabu (13/1).

Tidak hanya itu, Kapolda juga mengimbau masyarakat untuk menyaring setiap informasi baru yang didapatkan dan tidak me­nerimanya begitu saja.

Pindah

Dari Pesisir Selatan, warta­wan Haluan melaporkan aktifitas gerakan ini sudah tak terlihat sejak setahun terakhir. Di bebe­rapa tempat, penganutnya bahkan sudah meninggalkan rumah. Kabarnya, mereka pindah ke daerah lain.

Hal ini diakui Wali Nagari Sawah Laweh kecamatan Bayang, Nasri.A. Menurutnya, para ang­gota Gafatar itu sudah mening­galkan rumah mereka bersama  keluarganya. Informasi yang ia dapat, mereka bahkan bermigrasi hingga ke Sulawesi Utara dan berbagai pulau lainnya di Indo­nesia. Baginya, kepergian anggota Gafatar  itu sedikit banyak mem­bantu mengatasi keresahan mas­yarakat akibat pengaruh dari ajaran yang dianutnya diduga sesat dan menyesatkan.

“Kami tentu tak resah lagi karena mereka sudah menye­barkan ajaran tak masalah untuk tidak salat dan menyebut puasa Ramadan itu tak wajib karena menyiksa diri dan banyak lagi yang lainnya,”timpal seorang warga Gurun Laweh Kecamatan Bayang Pessel Masrul(65).

Anggota kelompok ini  secara rutin melaksanakan per­temuan di rumah anggotanya  maupun di hotel secara tertutup. Berbagai cara dilakukan  untuk meyakinkan masyarakat seperti, memberikan pertolongan pengo­batan dengan cara tradisional sambil membacakan mantera, kemudian pengembangan ajaran ini juga dilakukan dengan sistem dari rumah ke rumah (door to door).

Dibubarkan

Selain di Pesisir Selatan, keberadaan organisasi ini juga terdeteksi di Padang. Hal ini diakui Kapolsek Padang Barat Kompol Sumintak.

“Pertengahan tahun lalu seki­tar bulan Juli, kami dan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Padang telah membubarkan organisasi itu,” kata Kepala Polsek Padang Barat, Kompol Sumintak di Padang, Rabu (13/1).

Disebutkannya, pembubaran organisasi itu bermula dari laporan masyarakat yang resah dengan organisasi itu kemudian pihaknya melakukan negosiasi dengan pihak Gafatar dan akhirnya mem­bu­barkannya. Kegiatan Gafatar yang dibubarkan itu bertempat di sebuah rumah sewa di Kawasan Flam­boyan,  Raden Saleh, Kec­a­matan Padang Barat.

Leave A Response »